KEBOHONGAN KITA (Panda Ku)

Untuk malam yang telah kita lewati tanpa kebenaran, kutuliskan kata yang tak terucap. Untuk mu, seseorang yang sangat ingin kurengkuh lagi seperti dulu.

Aku ingat saat cahaya purnama lembut menyinari senyummu. Tulus dan berarti. Hari itu kita tidak berbicara. Hanya saling memandang dan membiarkan kesunyian menguasainya. Tidak ada takut. Tidak ada gelisah. Yang ada hanya nafas ku dan nafas mu. Derap jantung ku dan derap jantung mu. Serta kedua jemari kita yang saling bertautan. Kita lupa. Malam itu hanya mimpi. Mimpi yang dengan polosnya kita lewati berdua, kita kenang berdua, hingga pada akhirnya kita jatuh berdua.

http://favim.com/image/3382068/

Kalau saja malam itu waktu berhenti, mungkin aku tidak perlu berteriak selantang sekarang ini. Menyerukan nama mu dan mohonku. Untuk jangan pernah menyerah dengan kita dan segala kebohongan kita. Untuk jangan pernah jujur terhadap siapa diri kita. Terbelenggu dengan kepalsuan pun aku mampu. Asal tangan yang kugenggam waktu itu, asalkan hangat yang kurasakan waktu itu, kembali terulang lagi. Lagi, lagi dan lagi, hingga kita jatuh kejurang yang sama. Tenggelam dengan mimpi yang sama. Lupa dengan apa itu dunia. Asal bersama mu, sekali lagi kuteriakan, aku mampu!


http://favim.com/image/1954001/


Bisa kulihat arti pandang mu sekarang. Sesal tersirat dengan jelas di sana. Bahkan air mata ikut berbisik, seolah mengatakan ketidakmampuan mu. Seolah mengatakan kau tidak siap. Seolah mengatakan kau tidak mencintai diri mu sendiri. Hingga ucapan orang lain yang tidak dikenal, mempengaruhi semuanya. Menambah keraguan dan menjelaskan ketidakpercayaan mu. Padahal kita berdua sama-sama tau, malam itu tidak lebih dari kebohongan yang ingin kita lukis kembali. Sungguh Aku mempertanyakan sanggahan terhadap ingin mu sendiri. Hanya karna ucapan mereka, kau lari dari rasa yang memang kita rasakan berdua. Meninggalkan ku dalam mimpi lama dan jeritan tangis yang sudah di duga akan sangat terasa perihnya. Akhirnya keputusan itu berujung dengan luka. Hanya padaku. Aku.

https://www.flickr.com/photos/errolyucel/4966109357

Jujur.  Kata yang sangat sepi. Semua orang Nampak sangat jarang menggunakan kata itu. Bahkan beberapa orang telah berani membuangnya. Seperti aku yang telah memungkirinya. Menjadikan nya hanya sebagai pajangan. Belajar dari kisah lama, yang sangat ingin dilupakan. Walaupun nama mu masih terngiang di telinga, tapi tetap, laut masih sama asin, tanah masih sama keras, dan hati masih sama kosongnya sejak pelarianmu. Aku tidak menyalahkan ketidaksanggupanmu lagi. Aku juga tidak akan menahan kepergianmu dan meraung seperti waktu itu. Setelah aku sadari, saat kau tidak mampu berjuang bersama ,mungkin salah satu diantara kita memang tidak layak mendapat hangat peluk itu lagi.

http://www.lovethispic.com/image/19559/panda-hug

Namamu tidak ada lagi dalam doaku. Kamu tidak ada lagi dalam mimpi atau nyatanya hidupku. Aku memutuskan untuk memeluk sepi, meresapi pedih, merajut kebahagiaan palsu, sendirian. Aku mencintai diriku sendirian. Tidak lagi menyiksanya dengan kebohongan yang selalu ku anggap benar. Tidak lagi harus memakai topeng yang bukan diriku. Saat aku mengerti dengan keadaan ini, maka pantaslah kuberdiri diatas rasa bersalah itu. Sudah kuduga, saat akhirnya kau sadar, kau kembali menampakan diri dan membujuk ku untuk kembali seperti dulu.
Sangat ku ingat ucapan itu,

“maaf… “

Aku tidak menjawab.

“mungkin… mimpi itulah kenyataan yang sebenarnya terjadi. Jujur, aku mengharapkan mu kembali…”

Aku tersenyum. Miris. Mengingat semua perjuanganku yang mulai semakin sia-sia saat ku tatap dirinya memohon hal yang sama seperti yang kurasakan dulu. Tapi sungguh, kau salah mengucapkan sebuah kata. Kata yang tidak kita punya. Bahkan saat malam itu.

“kita berdua tidak pernah memiliki kata jujur. Yang selalu kita punya adalah kebohongan…” ucap ku pelan. Kau memandang ku penuh harap dan kubalas dengan tatapan ketidakpastian

“ku…kumohon… aku salah. Aku egois memang,,! Tapi sejak aku pergi, rasa ini semakin kuat. Aku bohong bila tidak merasakan apa-apa. Aku bohong terhadap keputusanku. Aku bohong terhadap diriku. Kumohon…. Aku akan memohon sampai lututku gontai, suara ku parau dan hatiku berdarah,…aku membencimu. Dan kau tau, aku telah berbohong.”

Diriku yang sekarang sudah hampir melupakan mu. Namamu tidak ada lagi dalam doaku, dan aku sangat yakin, saat aku beranggapan kau tidak pantas bersanding di sampingku, tidak mampu berjuang dengan ku dan dengan seluruh kesalahan mu yang menambah kecewaku, akhirnya aku sadar….

“aku bohong bila aku tidak mengingankanmu.”

http://stuffpoint.com/panda/image/225829/a-cute-couple-picture/



-END-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelabuhan Rindu

TRIBUTE TO XII-IPA ( kalian yang akan kurindukan)

YANG BERSYUKUR PUNYA KALIAN (tribute to ATM)